JAKARTA, Opsi.id — Joko Widodo (Jokowi) selama ini dikenal sebagai figur yang teruji dalam pertarungan elektoral.
Dua kali memenangkan Pilpres menunjukkan kekuatan Jokowi dalam membangun popularitas dan mengubahnya menjadi dukungan pemilih.
Namun, menurut mantan Sekjen NasDem Patrice Rio Capella, tantangan Jokowi kini memasuki babak berbeda.
Bukan lagi sekadar memenangkan pertarungan elektoral, melainkan membuktikan kemampuannya membangun dan memperkuat institusi politik.
Rio menilai Jokowi perlu menunjukkan bahwa pengaruh politik yang dimilikinya tidak hanya bergantung pada popularitas personal.
“Tokoh partai politik itu akan bertahan lebih lama ketika seorang tokoh ini mampu membangun institusi yang benar, kemudian punya sikap konsistensi, rekam jejak,” kata Rio dalam diskusi di kanal YouTube Total Politik, Rabu (19/8/2026).
Menurut Rio, Jokowi selama ini lebih tepat disebut sebagai “teknokrat elektoral”.
Ia memiliki kemampuan mengelola kekuatan elektoral, membangun kampanye, dan memenangkan kontestasi.
Kini, Jokowi menghadapi tantangan untuk naik ke level berikutnya, yakni menjadi “teknokrat politik” yang mampu membangun partai sebagai institusi yang kuat dan berkelanjutan.
“Ini harus dilakukan oleh Pak Jokowi agar tidak hanya berhasil di teknokrat elektoral, tapi teknokrat membangun partai. Teknokrat politik ini,” ujar mantan anggota DPR RI itu.
Popularitas Saja Tak Cukup
Rio mengatakan popularitas seorang tokoh memang dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sebuah partai kepada masyarakat.
Ketika masyarakat menyukai seorang tokoh, popularitas tersebut dapat ikut mengangkat partai yang dibawanya.
Namun, persoalannya adalah apakah popularitas tokoh tersebut bisa bertahan dan berubah menjadi kekuatan institusional partai.
“Misalnya dia suka pada tokoh ini, kemudian tokoh ini bikin partai, maka partai ini akan lebih cepat dikenal,” kata Rio.
Karena itu, menurut dia, sebuah partai tidak boleh berhenti pada ketokohan.
Partai harus memiliki institusi yang benar, konsistensi, rekam jejak, serta kader-kader yang mampu menjalankan peran secara tepat.
Di sinilah, kata Rio, tantangan politik Jokowi menjadi lebih berat.
Rio melihat aktivitas Jokowi yang belakangan kembali turun ke sejumlah daerah juga dapat dibaca dalam konteks membangun pengaruh politik tersebut.
Jokowi disebut sedang menjaga popularitasnya dengan menyapa masyarakat secara langsung.
Namun, popularitas itu belum otomatis berarti dukungan kepada PSI.
“Menjaga atau meningkatkan popularitas Pak Jokowi dengan turun kemudian menyapa masyarakat, elektabilitasnya pasti naik, popularitas pasti naik,” ujar Rio.
Menurut dia, justru konversi popularitas menjadi kekuatan partai yang masih harus diuji.
“Modal suka sama dia itu belum tentu ketika dialihkan ke partai PSI, misalnya, maka akan sama dukungannya,” katanya.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan Jokowi ke depan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak masyarakat yang masih menyambutnya.
Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah Jokowi mampu meninggalkan mesin politik dan institusi yang kuat, sehingga pengaruhnya tidak berhenti pada dirinya sebagai figur.
Bagi Rio Capella, di situlah ujian baru Jokowi: dari pemenang kontestasi elektoral menjadi pembangun kekuatan politik yang mampu bertahan lebih lama. []
Baca juga: Jokowi Duduk di Samping Prabowo, Gerindra Ungkap Makna di Balik Momen Ini
Baca juga: Prabowo Soroti Maraknya Korupsi Kepala Daerah: Pilkada Mahal, Hasilnya Memprihatinkan
Baca juga: Kaesang Masuk Kandang Puan, Respons Ketua DPR Bikin Penasaran!

