Jakarta, Opsi.id – Kecelakaan kereta api di Indonesia memiliki sejarah dan catatan kelam.
Dari tragedi besar di masa lalu hingga insiden terbaru di Bekasi Timur, rangkaian kecelakaan terus menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalur rel masih menyisakan tantangan.
Sejarah mencatat, salah satu kecelakaan paling mematikan terjadi di Bintaro pada 19 Oktober 1987.
Dua kereta bertabrakan akibat kesalahan komunikasi dan sistem persinyalan yang belum memadai.
Ratusan nyawa melayang dalam tragedi yang hingga kini masih membekas sebagai luka terdalam dunia perkeretaapian Indonesia.
Puluhan tahun berselang, peristiwa serupa dengan pola berbeda kembali terjadi.
Pada 2013, kawasan Bintaro kembali diguncang saat kereta rel listrik menabrak truk tangki bahan bakar di perlintasan sebidang.
BACA: PT Kereta Api Indonesia Daop 3 Cirebon Lakukan Penutupan Perlintasan Sebidang
Insiden itu menyoroti satu masalah klasik: rendahnya disiplin di perlintasan kereta.
Kecelakaan demi kecelakaan pun terus berulang.
Pada 2019 di Ngawi, KA Sancaka menghantam truk di perlintasan, menewaskan masinis.
Lalu pada 2024, tabrakan antara KA Turangga dan Commuter Line di Cicalengka kembali mengguncang publik, memicu sorotan terhadap sistem pengendalian perjalanan kereta.
Terbaru tahun 2026, terjadi kecelakaan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/04/2026) malam.

