Jakarta – Pertengahan tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Parade Hujan. Setelah melewati proses kreatif yang panjang, mereka akhirnya merilis album perdana bertajuk “Punar” di seluruh platform digital.
Album ini bukan sekadar rilisan musik, melainkan simbol reuni emosional bagi tiga personel yang sebelumnya dikenal sebagai bagian dari Payung Teduh.
Mohammad Istiqamah Djamad atau Mas Is (gitar, vokal), Alejandro Saksakame atau Cito (drum), dan Ivan Penwyn Panjaitan atau Ivan (guitalele) kembali bersatu dalam satu entitas musik yang mereka sebut sebagai “rujuk rindu”.
Album “Punar” berisi delapan lagu yang disusun dengan konsep siklus kehidupan. Urutan lagu di dalamnya dirancang untuk merepresentasikan perjalanan manusia yang berulang-ulang, yakni lahir, tumbuh, jatuh, bangkit, lalu kembali ke titik semula.
Filosofi ini menjadi benang merah yang memperlihatkan kedewasaan musikal Parade Hujan sekaligus refleksi atas perjalanan panjang mereka.
Setiap lagu dalam album ini membawa nuansa yang intim, penuh perenungan, dan tetap mempertahankan karakter khas yang pernah membuat karya mereka sebelumnya begitu dicintai.
Untuk merayakan perilisan album ini, Parade Hujan juga menyiapkan tur bertajuk Tur Album Punar. Konsep tur dikemas secara intimate agar pendengar bisa merasakan kedekatan langsung dengan para personel.
Tur perdana akan dimulai pada 31 Juli 2026 di Jawa Timur, dengan kota Malang, Bojonegoro, Kediri, dan Lamongan sebagai destinasi awal. Setelah itu, tur akan berlanjut ke Jawa Tengah pada September, dan kemudian menyambangi berbagai kota lain di seluruh Indonesia.
Format tur ini dirancang berlangsung setiap bulan, dengan lima kota di setiap provinsi sebagai tujuan.
Selain album digital, “Punar” juga dicetak dalam bentuk cakram CD yang akan tersedia di setiap pertunjukan. CD ini akan disandingkan dengan merchandise resmi Parade Hujan, sehingga para penggemar bisa membawa pulang kenangan fisik dari tur.
Langkah ini menunjukkan komitmen mereka untuk tetap menghadirkan karya dalam format yang beragam, meski era digital kini mendominasi.
Dalam pesan yang mereka sampaikan, Parade Hujan mengajak para pendengar untuk menikmati album “Punar”, menghapalkan lagunya, lalu berkumpul dan bernyanyi bersama dalam tur.
Mereka berharap setiap sesi tur menjadi ruang bercengkerama, bertukar cerita, dan merayakan karya yang lahir dari kebersamaan.
“Terima kasih sudah memberi ruang, membuka telinga, dan merasakan karya-karya kami,” kata mereka dalam pernyataan resmi.
Album “Punar” bukan hanya sekadar rilisan musik, tetapi juga simbol perjalanan baru Parade Hujan. Kembalinya Mas Is, Cito, dan Ivan dalam satu entitas musik menjadi jawaban atas kerinduan banyak penggemar yang mengikuti perjalanan mereka sejak era Payung Teduh.
Dengan delapan lagu yang penuh makna, tur yang menyentuh banyak kota, serta semangat untuk terus berkarya, Parade Hujan menegaskan bahwa mereka siap melangkah lebih jauh di industri musik Indonesia. []


