Dari sisi tema, Suamiku Lukaku berhasil mengangkat isu KDRT secara gamblang.
Film ini tidak hanya menampilkan kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis, ekonomi, hingga kontrol emosional yang kerap luput dari perhatian masyarakat.
Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: kekerasan dalam rumah tangga bukan urusan privat yang harus ditutupi, melainkan masalah serius yang membutuhkan dukungan dan keberanian untuk melawan.
Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kekurangan.
Pada beberapa bagian, dramatik cerita terasa berlebihan dan mendekati gaya sinetron televisi.
Beberapa adegan juga terasa terlalu dibuat untuk memancing tangisan penonton sehingga sedikit mengurangi kesan realistis yang telah dibangun sejak awal. Kritik serupa juga muncul dalam sejumlah ulasan penonton.
Baca juga: Pesta Babi, Ada Apa dengan Film Dokumenter Karya Dandhy Laksono Ini?
Terlepas dari kekurangan tersebut, Suamiku Lukaku tetap menjadi salah satu drama Indonesia yang berani dan relevan.
Film ini tidak hanya menghadirkan kisah yang menguras emosi, tetapi juga mengajak penonton memahami penderitaan korban KDRT dan pentingnya keberanian untuk keluar dari hubungan yang menyakitkan.
Nilai: 8/10
Suamiku Lukaku bukan film yang nyaman ditonton, tetapi justru di situlah kekuatannya.
Ia memaksa penonton menatap kenyataan yang sering disembunyikan di balik citra keluarga bahagia.
Ketika lampu bioskop menyala, yang tertinggal bukan hanya air mata, melainkan pertanyaan penting: berapa banyak Amina yang masih memilih diam di luar sana? []


