Meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan disebut bergerak mendekati level 96 dollar AS per barel.
Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi meningkatkan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat.
Situasi itu memperbesar ekspektasi pasar. Bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Ibrahim juga menyoroti pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, Neel Kashkari.
Dia menegaskan bahwa kekhawatiran utama The Fed saat ini masih terfokus pada inflasi dibanding pelemahan pasar tenaga kerja.
Penguatan dollar AS akibat ekspektasi suku bunga tinggi tersebut kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah dipicu tingginya kebutuhan dollar AS untuk impor minyak.
Pembayaran dividen perusahaan, serta kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.
Ia juga melihat adanya perpindahan dana masyarakat ke instrumen valuta asing di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Selain faktor ekonomi, sentimen investor disebut turut dipengaruhi berbagai isu tata kelola program pemerintah yang memunculkan kekhawatiran di pasar keuangan.
Baca juga: Ekonom Kritik Tajam Kebijakan Pemerintah Prabowo dan BI Imbas Rupiah Terpuruk
“Sentimen pasar juga dipengaruhi berbagai isu domestik yang dinilai menambah tekanan terhadap kepercayaan investor,” katanya.
Meski demikian, pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dinilai masih lebih baik.
Dibanding perkiraan sebelumnya yang sempat diproyeksikan mendekati level Rp17.900 per dollar AS.
Untuk perdagangan Jumat (29/5/2026), Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut.
Berpotensi mendekati level Rp18.000 per dollar AS apabila sentimen global belum mereda. []


