Pandeglang — Talas Beneng yang selama ini menjadi salah satu potensi pertanian di Desa Saninten, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, mulai dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Melalui BUMDes Sumur Tujuh, masyarakat Desa Saninten kini didorong untuk mengolah Talas Beneng tidak hanya sebagai bahan baku pertanian, tetapi juga menjadi produk yang mampu membuka peluang usaha baru.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026. Program ini mencakup peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen usaha, hingga perluasan pemasaran.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni penerapan teknologi pengolahan berupa mesin penepung Talas Beneng.

Mesin Penepung Tingkatkan Kapasitas Produksi
Kehadiran mesin penepung membantu BUMDes Sumur Tujuh mempercepat proses pengolahan Talas Beneng menjadi tepung.
Mesin tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 350 kilogram per jam dengan tingkat kehalusan tepung mencapai 60–100 mesh.
Dengan teknologi ini, BUMDes tidak hanya mampu meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai produk turunan berbahan dasar Talas Beneng.
Ketua Pelaksana Program Pengabdian kepada Masyarakat, Didik Sugiyanto, mengatakan teknologi yang diberikan harus benar-benar mendukung aktivitas usaha masyarakat.
“Teknologi yang diterapkan tidak boleh hanya menjadi peralatan, tetapi harus menjadi bagian dari proses usaha BUMDes. Dengan kemampuan pengolahan yang meningkat, Talas Beneng bisa memiliki nilai tambah yang lebih besar,” ujar Didik.

Pengelolaan Usaha Mulai Diperkuat
Selain sisi produksi, program tersebut juga menyasar penguatan tata kelola BUMDes.
Para pengelola mendapatkan pendampingan mengenai pembukuan digital, penyusunan laporan keuangan sederhana, serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) usaha.
Langkah ini dilakukan agar aktivitas usaha berjalan lebih tertata. BUMDes juga dapat mengetahui secara jelas biaya produksi, pemasukan, hingga perkembangan usaha dari waktu ke waktu.

Produk Talas Beneng Didorong Masuk Pasar Digital
Pengembangan usaha tidak berhenti pada proses produksi. BUMDes Sumur Tujuh juga mendapat pendampingan untuk memperluas pemasaran melalui platform digital.
Strategi yang dilakukan meliputi pemanfaatan media sosial, marketplace, serta peningkatan kualitas kemasan produk.
Program tersebut menargetkan pembuatan sedikitnya tiga desain kemasan baru agar produk olahan Talas Beneng memiliki tampilan lebih menarik dan mampu bersaing di pasar.
Direktur BUMDes Sumur Tujuh Desa Saninten, Idi Suryadi, menyebut pengembangan usaha membutuhkan kombinasi antara teknologi dan kemampuan pengelolaan.
“Kami berharap teknologi ini dapat membantu BUMDes meningkatkan pengolahan Talas Beneng dan menghasilkan produk yang lebih beragam. Selain itu, kemampuan pemasaran dan pengelolaan usaha juga harus terus ditingkatkan,” kata Idi.

Talas Beneng Jadi Potensi Ekonomi Baru
Ke depan, BUMDes Sumur Tujuh akan terus mengembangkan pengolahan Talas Beneng melalui peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi produk, penguatan pembukuan, serta perluasan jaringan pemasaran.
Dengan pengelolaan yang lebih baik, Talas Beneng di Desa Saninten diharapkan tidak hanya menjadi hasil pertanian biasa, tetapi mampu menjadi produk unggulan desa yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.[]


