Dipicu Efek Penurunan Berat Badan
Popularitas prosedur ini meningkat seiring meluasnya penggunaan obat golongan GLP-1, seperti Ozempic dan Mounjaro.
Meski efektif menurunkan berat badan, obat-obatan tersebut juga membuat sebagian pengguna kehilangan lemak di area yang sebenarnya ingin tetap berisi, seperti payudara, bokong, dan pinggul.
“Orang yang menggunakan Ozempic atau menjalani diet ketat sering kali menjadi sangat kurus sehingga tidak memiliki cukup lemak untuk dipindahkan ke bagian tubuh lain,” kata ahli bedah plastik asal New York, Dr. Melissa Doft, dikutip dari odditycentral, Kamis (30/7/2026).
Senada dengan itu, ahli bedah plastik Dr. Darren Smith menyebut banyak pasien yang datang untuk pembesaran payudara atau prosedur mini Brazilian Butt Lift (BBL) menggunakan AlloClae karena kehilangan volume lemak setelah memakai obat penurun berat badan.
Biaya Fantastis
Meski tersedia pilihan filler berbahan asam hialuronat, sebagian pasien memilih suntikan berbasis jaringan donor karena dianggap memberikan hasil yang lebih alami dan mengurangi risiko pembengkakan maupun gangguan pada sistem limfatik.
Salah satu daya tarik prosedur ini adalah waktu pemulihan yang sangat singkat. Pasien umumnya tidak memerlukan anestesi umum maupun masa pemulihan yang panjang.
Baca juga: Usai Oplas Rp65 Juta, Elly Sugigi Tegas: Saya Tak Mau Lagi Sama Laki-laki Jelek
Namun, prosedur tersebut memicu perdebatan etis karena bahan yang digunakan berasal dari jaringan donor organ yang telah meninggal dunia.
Meski demikian, kontroversi tersebut tampaknya tidak mengurangi minat pasar.
Di Amerika Serikat, biaya perawatan ini berkisar antara 5.000 hingga 45.000 dolar AS, bahkan dalam beberapa kasus dilaporkan bisa mencapai 100.000 dolar AS atau sekitar Rp1,6 miliar (tergantung jenis prosedur dan jumlah suntikan).
Menurut ahli bedah plastik Dr. Haideh Hirmand, sebagian besar pasien tidak terlalu mempermasalahkan asal-usul bahan yang digunakan.
“Saya pikir semua orang akan merasa ngeri, tetapi ternyata jauh lebih sedikit yang peduli daripada yang saya bayangkan,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perkembangan industri kecantikan terus menghadirkan inovasi baru, meski di sisi lain memunculkan perdebatan mengenai aspek etika penggunaan jaringan manusia untuk kepentingan kosmetik. []


