Sebab, kenaikan utang akan diikuti peningkatan pembayaran bunga dan kebutuhan pembiayaan baru yang lebih mahal.
“Ini bisa menjadi sinyal risiko fiskal mulai meningkat,” katanya dikutip Minggu (10/5/2026).
Tekanan tersebut juga mulai tercermin di pasar keuangan.
Investor disebut mulai membaca adanya peningkatan risiko fiskal Indonesia. Terlihat dari naiknya yield Surat Berharga Negara (SBN) dan pelebaran spread terhadap US Treasury.
Kenaikan yield menunjukkan pemerintah harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi agar obligasi negara tetap diminati investor.
BACA JUGA: Gatot: Besarnya Utang RI Jadi Beban Bagi Generasi Mendatang
Kondisi itu pada akhirnya berpotensi membuat biaya utang pemerintah semakin mahal.
Meski demikian, pemerintah sebelumnya menegaskan posisi utang Indonesia masih relatif aman dan terjaga dibanding sejumlah negara lain.
Pemerintah juga memastikan pengelolaan utang tetap dilakukan secara hati-hati untuk menjaga stabilitas fiskal dan mendukung pembiayaan pembangunan nasional. []

