Namun, menurutnya, persoalan utama bukan lagi sekadar besarnya rasio utang, melainkan semakin beratnya beban bunga yang harus dibayar pemerintah.
“Dari setiap Rp100 penerimaan negara, sekitar Rp16 hingga Rp17 habis hanya untuk membayar bunga utang,” ujar Yusuf.
Kondisi tersebut dinilai membuat ruang fiskal pemerintah semakin sempit.
Karena sebagian besar penerimaan negara sudah lebih dulu terkunci untuk membayar kewajiban bunga.
BACA JUGA: Empat Tahun Mandek, Utang Rp20,6 Miliar Anak Usaha Jakpro Jadi Sorotan Tajam
Sebelum digunakan untuk pembangunan, subsidi, pendidikan, maupun kesehatan.
Tak hanya itu, Yusuf juga menyoroti defisit keseimbangan primer yang mencapai Rp95,8 triliun.
Situasi ini menunjukkan pemerintah masih harus menggunakan utang baru untuk membayar bunga utang lama.
Menurut dia, pola tersebut berpotensi menciptakan lingkaran tekanan fiskal yang semakin berat di masa depan.

