JAKARTA, Opsi,id – Restrukturisasi besar-besaran perusahaan negara terus dilakukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Dari total 1.074 perusahaan BUMN, sekitar 290 perusahaan disebut telah ditutup atau digabungkan melalui berbagai skema korporasi.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari program streamlining untuk membuat pengelolaan perusahaan negara lebih efisien, produktif, dan optimal.
“Dari total 1.074 perusahaan BUMN, kami melakukan streamlining. Per hari ini memang sudah menurunkan jumlah sekitar 290 perusahaan yang sudah kami tutup,” kata Rosan dalam keterangannya pada Jumat (14/8/2026).
Penataan dilakukan melalui sejumlah skema, mulai dari merger, divestasi, likuidasi hingga konsolidasi vertikal.
Menurut Rosan, proses tersebut tidak sekadar bertujuan mengurangi jumlah perusahaan, tetapi juga menghindari tumpang tindih usaha dan mengoptimalkan aset serta sumber daya yang dimiliki negara.
Rumah Sakit hingga Hotel Ikut Dikonsolidasikan
Salah satu contoh restrukturisasi dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor manajemen aset dan institusi keuangan.
Perusahaan manajemen aset yang sebelumnya tersebar di bawah sejumlah bank dan institusi keuangan BUMN akan dikonsolidasikan.
Langkah serupa juga dilakukan terhadap sejumlah perusahaan rumah sakit dan perhotelan.
Rosan menyebut setelah proses konsolidasi, terdapat sekitar 137 hotel yang berada dalam satu pengelolaan.
“Ini salah satu program yang kita jalankan dengan target memang pada akhir tahun ini kita bisa mencapai kurang lebih 300 perusahaan BUMN,” ujarnya.
Rosan mengakui proses tersebut tidak mudah. Setiap keputusan restrukturisasi harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum merger, likuidasi maupun konsolidasi dilakukan.
Namun, menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menciptakan efisiensi, meningkatkan produktivitas, sekaligus mengoptimalkan aset-aset negara.
Investasi Rp1.106 Triliun Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja
Di sisi lain, Rosan memaparkan kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen, dengan investasi memberikan kontribusi sekitar 39 persen terhadap pertumbuhan tersebut.
Investasi juga tumbuh sekitar 6,87 persen, lebih tinggi dibandingkan konsumsi yang disebut tumbuh 5,06 persen.
Pada semester pertama 2026, realisasi investasi disebut mencapai sekitar Rp1.106 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja langsung.
Rosan menekankan investasi tidak boleh hanya dilihat dari besarnya nilai modal yang masuk.
“Angka-angka pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir,” katanya, dikutip Minggu (16/8/2026).
Menurut dia, setiap rupiah investasi harus menghasilkan pekerjaan yang berkualitas sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Hilirisasi Sumbang Hampir 30 Persen Investasi
Program hilirisasi juga menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian besar.
Rosan menyebut sekitar 29,7 persen investasi yang masuk berasal dari sektor hilirisasi, dengan nilai mencapai sekitar Rp300,1 triliun dan tumbuh 6,9 persen.
Namun, investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral dengan nilai sekitar Rp206,5 triliun.
Danantara, kata Rosan, juga mendorong hilirisasi di sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi karena sektor-sektor tersebut dinilai memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang lebih besar.
Danantara Siapkan Investasi Rp225 Triliun
Rosan juga mengungkapkan Danantara telah menjalankan investasi dalam sejumlah proyek yang dilakukan melalui dua tahap.
Tahap pertama mencakup enam proyek di 13 daerah, sedangkan tahap kedua mencakup 13 proyek tambahan.
Total investasi yang disebut telah dilakukan mencapai Rp225 triliun.
Perkembangan proyek tersebut dipantau melalui sistem dashboard setiap hari agar perkembangan investasi dapat terus dievaluasi.
DSI Mulai Pantau Perdagangan Ekspor
Selain restrukturisasi BUMN, Rosan juga menyinggung peran Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam memantau aktivitas ekspor.
Menurut dia, DSI kini dapat mengintegrasikan data dari sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Keuangan, Bea Cukai, Perhubungan, ESDM, Perdagangan dan Pertanian.
Integrasi tersebut memungkinkan pemerintah memantau asal pelabuhan, harga, volume hingga negara tujuan ekspor.
Rosan mengatakan sistem tersebut juga membantu mendeteksi adanya perbedaan antara harga yang tercatat dengan harga indeks.
Menurutnya, setelah DSI berjalan, harga yang dilaporkan kini semakin mendekati harga indeks.
Efisiensi BUMN Jadi Agenda Besar
Restrukturisasi ratusan perusahaan tersebut menunjukkan bahwa efisiensi BUMN menjadi salah satu agenda besar Danantara.
Dengan konsolidasi dan pengurangan jumlah perusahaan, pemerintah berharap aset negara dapat dikelola lebih produktif dan tidak terjadi lagi tumpang tindih antarperusahaan.
Namun, proses tersebut juga diakui bukan pekerjaan ringan karena menyangkut aset, tenaga kerja, struktur perusahaan dan berbagai kepentingan yang harus diperhitungkan.
Rosan menegaskan target akhirnya bukan sekadar “mengurangi jumlah BUMN”, tetapi membangun struktur perusahaan negara yang lebih sehat, efisien, produktif dan mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat. []
Baca juga: Presiden Prabowo Buka Opsi Amnesti bagi Direksi BUMN yang Tobat
Baca juga: SDK Optimistis PT Danantara SDA Ciptakan Pasar Ekspor yang Lebih Sehat dan Stabil
Baca juga: Prabowo Bongkar-Bongkar BUMN: dari 1.000 Jadi 250, Sisanya Buat Riset

