JAKARTA, Opsi.id – Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi memberikan penilaian 9 dari 10 terhadap kemampuan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menjaga stabilitas emosi saat menghadiri persidangan kasus tudingan ijazah palsu di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (5/11/2026).
Penilaian tersebut disampaikan Burhanuddin dalam program Bang Don Zuper Opini yang dipandu jurnalis senior Don Bosco Selamun dan ditayangkan Tutur Media.
Menurut Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia tersebut, kehadiran Jokowi di persidangan merupakan peristiwa besar.
Pasalnya, mantan kepala negara itu harus menghadapi persidangan di tengah berbagai tekanan politik dan polemik yang selama ini membayangi dirinya.
Burhanuddin menilai Jokowi mampu menunjukkan sikap tenang meskipun berhadapan langsung dengan pihak-pihak yang selama bertahun-tahun mempersoalkan keaslian ijazahnya.
“Kalau dipertunjukkan begitu, itu kan sama dengan mendeklarasikan, kalian menuduh kertas ini yang selama ini palsu. Sekarang saya perlihatkan,” kata Burhanuddin, dilansir Minggu (8/11/2026).
Ia mengakui terdapat sejumlah momen ketika Jokowi terlihat menunjukkan kejengkelan, terutama saat menjawab pertanyaan yang dianggap menguji hal-hal detail mengenai masa kuliahnya.
Namun, secara keseluruhan, Burhanuddin menilai Jokowi mampu mengendalikan emosinya selama persidangan.
Baca juga: Sentil Roy Suryo di Persidangan, Jokowi: Peneliti Tidak Seperti Ini Etikanya
“Kalau dari 1 sampai 10, artinya mampu menjaga stabilitas emosi, nilai dia sekitar 9,” ujarnya.
Burhanuddin juga menyoroti gestur Jokowi ketika memperlihatkan ijazah SD, SMP, SMA hingga S1 di hadapan majelis hakim dan pengunjung sidang.
Menurutnya, tindakan tersebut memiliki pesan komunikasi simbolik yang kuat karena Jokowi sebelumnya berulang kali menyatakan bersedia menunjukkan ijazahnya melalui forum persidangan.
Ia juga menilai kesediaan Jokowi menghampiri dan berjabat tangan dengan Roy Suryo serta pihak lain yang selama ini berseberangan dengannya menjadi bagian menarik dari komunikasi politik di ruang sidang.
Burhanuddin bahkan menilai ekspresi Roy Suryo yang tertawa ketika Jokowi memperlihatkan ijazah justru berpotensi menjadi blunder komunikasi dan menambah simpati publik kepada mantan presiden tersebut.
Selain itu, ia menyoroti batik bermotif parang yang dikenakan Jokowi. Dalam penafsirannya, motif tersebut dapat dimaknai sebagai simbol kesiapan menghadapi tantangan.
Baca juga: Warganet Malaysia Kecam Perlakuan terhadap Jokowi di Persidangan: Hormati Dia sebagai Manusia
Kehadiran Jokowi di persidangan, lanjut Burhanuddin, juga tidak bisa dilepaskan dari situasi politik yang sedang berkembang, termasuk polemik dokumen pendidikan Gibran Rakabuming Raka dan hubungan politik Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai berbagai persoalan tersebut menjadi beban tersendiri bagi Jokowi. Karena itu, kemampuan menjaga ekspresi dan emosi selama persidangan menjadi salah satu aspek yang menarik untuk diamati.
Burhanuddin menegaskan, penilaiannya terhadap sikap Jokowi di ruang sidang merupakan pembacaan komunikasi politik, bukan penilaian terhadap pembuktian hukum mengenai keaslian ijazah.
Persidangan tersebut menjadi sorotan publik setelah Jokowi hadir langsung sebagai saksi dan memperlihatkan dokumen pendidikannya di hadapan majelis hakim. []

