Xanana dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan negara tersebut.
Setelah referendum 1999 dan proses transisi menuju kemerdekaan, Xanana terpilih sebagai Presiden pertama Timor-Leste pada 2002.
Ia kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri Timor-Leste pada 2007–2015 dan kembali memimpin pemerintahan negara tersebut sejak 2023.
Perjalanan panjang itu menempatkan Xanana dalam dua fase penting sejarah Timor-Leste, yakni perjuangan membangun negara serta pengelolaan pemerintahan setelah kemerdekaan.
Bagi Unhas, pengalaman tersebut memberikan konteks akademik yang kuat untuk melihat kepemimpinan sebagai bagian dari proses pembangunan administrasi dan pemerintahan.
Xanana dinilai menghadapi tantangan kompleks dalam membawa masyarakat Timor-Leste melewati pengalaman konflik menuju kondisi negara yang lebih stabil.
“Kami mengakui keberhasilan beliau dalam membawa masyarakat dan negaranya menuju kondisi yang jauh lebih baik, khususnya setelah melalui berbagai tantangan dan pengalaman masa lalu,” tambah Prof. Sukri.
Selain kepemimpinan di dalam negeri, kiprah Xanana juga dinilai terlihat dalam upayanya menjaga hubungan yang damai dan harmonis dengan negara-negara di kawasan.
Kemampuan tersebut dipandang sebagai bagian dari kepemimpinan yang turut berkontribusi terhadap kondisi sosial dan politik Timor-Leste.


