Jakarta – Musisi folk Aldy Amis merilis album terbaru bertajuk “Mimbar Jalanan” pada 23 April 2026. Album ini hadir dengan konsep yang unik, menyerupai format video pendek di platform digital masa kini, namun tetap mempertahankan substansi dan kedalaman pesan.
Dengan gaya lugas dan jenaka, album ini menyampaikan kritik sosial yang relevan terhadap kondisi bangsa, tanpa kehilangan nuansa musikal yang khas.
Album “Mimbar Jalanan” terdiri dari 8 lagu yang secara berurutan mengangkat tema ketimpangan, pembodohan, resistensi, penerimaan, hingga pengharapan.
Tiga lagu pembuka dibalut dengan nuansa dramatis melalui biola dan megaphone, menggambarkan buntunya saluran demokrasi serta kacaunya penegakan hukum. Kritik sosial yang disampaikan terasa jujur, to the point, dan mudah dipahami tanpa perlu penjelasan tambahan.
Album ini juga menghadirkan kolaborasi dengan sejumlah musisi ternama. Iga Massardi tampil dalam track “Local Wisdumb”, memberikan sentuhan musikal yang atraktif.
Sementara itu, Mike Marjinal menulis lirik untuk “Hewan Perwakilan Rakyat”, menghadirkan kritik tajam dengan gaya khas yang tetap dapat diterima oleh publik. Kehadiran kedua figur ini menambah warna dan kekuatan artistik dalam album.
Salah satu nomor yang menarik perhatian adalah “Lapor Mas Wapres”, sebuah lagu satir yang seolah mengajak pendengarnya untuk turut bernyanyi, bahkan bagi sosok yang menjadi inspirasi penulisan liriknya.
Tiga track penutup album menghadirkan nuansa reflektif berupa penerimaan dan pengharapan, dengan pesan bahwa meski “kita semua tak selamat, juru selamat datang terlambat,” tetap ada doa dan cinta yang menjadi penopang.
Track terakhir, “Krisis Cinta”, menjadi penutup yang lirih dan penuh makna. Liriknya menegaskan harapan universal: “Ku berharap semua manusia hidup damai dan terjaga. Kini banyak-banyak aku berdoa, Cinta kalahkan semuanya.” Lagu ini menegaskan bahwa cinta tetap menjadi jawaban di tengah krisis sosial maupun personal.
Dengan album ini, Aldy Amis menunjukkan keberanian untuk keluar dari label musisi folk konvensional. Ia menjadikan isu-isu kompleks sebagai bahan bernyanyi, seolah permainan sederhana yang bisa dinikmati siapa saja.
Album “Mimbar Jalanan” hadir sebagai karya yang kritis sekaligus menghibur, sebuah refleksi sosial yang dikemas dalam bentuk musik yang dapat dinikmati secara luas. []


