Mata uang Garuda turun 33 poin ke level Rp 17.630 per dolar AS. Ketidakpastian konflik Iran dan hasil pertemuan Trump-Xi yang dinilai belum konkret menekan pasar keuangan global.
| Kurs Pembukaan
Rp 17.630 ▼ 33 poin (−0,19%) |
Penutupan Sebelumnya
Rp 17.597 Jumat, 15 Mei 2026 |
Proyeksi Hari Ini
17.550 – 17.650 Per dolar AS |
Jakarta, Opsi.id — Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) pagi.
Mata uang Garuda turun 33 poin atau sekitar 0,19 persen menjadi Rp 17.630 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu sentimen global yang kembali memburuk seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran.
Investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman setelah muncul kekhawatiran konflik dapat berkepanjangan dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global — dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang, akibat kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran.”
— Lukman Leong, Analis Mata Uang Doo Financial Futures (dikutip dari Antara)
Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Pasar merespons negatif hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai belum memberikan solusi konkret terkait konflik AS-Iran.
Baca juga: Martin Manurung Serahkan Bantuan Miliaran Rupiah ke Masyarakat Tapteng
Dalam pertemuan tersebut, China disebut mendorong agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan tetap mempertahankan gencatan senjata di kawasan.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan bahwa Beijing terus berupaya mendorong perdamaian dan memfasilitasi proses perundingan demi meredakan konflik di Timur Tengah.
China juga menegaskan komitmennya untuk terus memainkan peran dalam memulihkan stabilitas kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan dan distribusi energi dunia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut upaya mediasi yang dipimpin Pakistan bersama AS belum menemui jalan keluar.
Baca juga: Isu Viral Hari Ini di Platform X: Nilai Tukar Rupiah Melemah hingga Polemik QRIS
Proses negosiasi menghadapi “jalan yang sangat sulit” karena masih adanya ketidakpercayaan Iran terhadap Washington serta pesan-pesan AS yang dianggap kontradiktif.
Presiden Trump sendiri mengaku belum yakin kesepakatan antara AS dan Iran bisa segera tercapai.


