Mamuju, OPSI.ID – Ketua PSSI Mamuju, Febrianto Wijaya, menegaskan pentingnya turnamen sepakbola antar sekolah sebagai fondasi pembinaan usia dini di Kabupaten Mamuju.
Hal itu disampaikan Febrianto saat membuka turnamen sepakbola Liga Anak Mamuju antar Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Mamuju, Rabu, 20 Mei 2026.
Menurutnya, kompetisi antar sekolah akan mendorong semakin banyak sekolah berpartisipasi sekaligus menciptakan persaingan yang sehat dalam pembinaan olahraga.
“Semakin banyak sekolah yang bisa berpartisipasi. Kenapa? Karena kalau pertandingannya antar sekolah, pasti seluruh sekolah akan kompetitif,” ujar Febrianto.
Ia menjelaskan, para pemain dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) maupun akademi sepakbola saat ini juga tersebar di sejumlah sekolah.
Mulai dari SSB Mitra Manakarra, Punggawa Malolo, Bamburuncing hingga akademi PSM.
“Anak-anak SSB, baik itu dari Mitra Manakarra, Punggawa Malolo, Bamburuncing maupun akademi PSM, anak-anaknya tersebar di sekolah-sekolah,” katanya.
Febrianto menilai dukungan sekolah menjadi faktor penting dalam pengembangan bakat para siswa. Menurutnya, seorang siswa tidak mungkin mengikuti kompetisi tanpa dukungan dari pihak sekolah.
“Pasti sekolahnya mendukung. Tidak mungkin dia mendaftar kalau sekolahnya tidak mendukung,” pungkas Febrianto.
Ia juga menyoroti pola pembinaan olahraga di negara-negara maju yang menempatkan sekolah sebagai basis utama kompetisi, mulai dari tingkat SD hingga universitas.
Menurutnya, konsep tersebut perlu diperkuat di daerah karena dapat mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung orang tua maupun akademi dan SSB yang bersifat swasta.
“Di sekolah ada dana BOS dan ada dana APBD yang bisa mensupport. Jadi beban orang tua siswa tidak bertambah, begitu juga akademi dan SSB,” jelasnya.
Ke depan, PSSI Mamuju akan memperkuat pelaksanaan turnamen tingkat SD dan SMP yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten dan kota.
Febrianto berharap, sekolah mulai mempersiapkan diri dengan menghadirkan pelatih sendiri dan menjadikan sepakbola sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler prioritas.
“Sekolah harus mempersiapkan diri. Kalau tidak, sekolah nanti harus punya pelatih sendiri dan cabang olahraga sepakbola yang bisa menjadi ekstrakurikuler skala prioritas,” tutup Febrianto. []
Reporter: Eka Musriang


