Jakarta – Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Justin Adrian Untayana mengantongi catatan adanya anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang terjangkit penyakit HIV dari pergaulan bebas.
Menurut Justin, hal ini terjadi akibat minimnya kehadiran serta peran orang tua di kehidupannya.
“Saya sempat pergi ke salah satu SMP di Jakarta Timur (Jaktim). Mereka telah melaksanakan medical check-up. Di satu SMP itu ada 16 anak terdeteksi HIV. Ini merupakan fenomena ‘gunung es’, di bawahnya pasti lebih banyak lagi. Itu baru dari satu sekolah saja,” ujar Justin dalam Rapat Kerja Komisi E terhadap Rencana Kerja Pemerintah Daerah Perubahan (RKPD-P) 2026, dikutip Rabu, 8 Juli 2026.
“Tapi, ini anak-anaknya di bawah 17 tahun. Itu sudah HIV. Waktu saya gali kenapa, ya mereka ikutan geng balap-balapan motor, modifikasi motor, saling berhubungan, bertukar pacar, dan lain sebagainya sampai bisa terjangkit HIV. Ya kita bingung juga terhadap anak SMP masa kita ingin berikan pelajaran kontrasepsi dan lain sebagainya,” ucapnya menambahkan.
Maka itu, Justin menyerukan agar keluarga-keluarga lebih mengemban tanggung jawab dalam membina anak-anaknya untuk menjadi warga Jakarta yang baik.
Menurut dia, sebagus apapun fasilitas yang diberikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI terhadap anak-anak di DKI Jakarta, kalau orang tua tidak mengambil peran, maka akan sia-sia saja uang pajak yang dibayarkan masyarakat Jakarta.
“Lagi-lagi orang-orang tua harus terlibat. Orang tua yang abai untuk memastikan anaknya jadi warga DKI Jakarta yang baik, saya kira mereka tidak pantas untuk keluarganya menerima bantuan sosial dalam bentuk apapun itu juga. Jadi, ini harus didorong kepada Bapak Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut ia juga menyerukan perlunya pencabutan bantuan sosial (bansos) dalam keluarga pelaku tawuran.
“Saya kira kita harus betul-betul mendorong ketegasan Bapak Gubernur DKI Pramono Anung agar anak-anak yang terlibat tawuran, dan hal-hal lainnya dicabut saja bansos sekeluarganya,” ucapnya.
Justin menilai pemberian bansos kepada warga yang berhak untuk mendapatkannya harus disertai dengan tanggung jawab, terutama dari pihak orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
“Anak-anak yang tawuran ini ya enggak takut kalau KJP (Kartu Jakarta Pintar) nya dicabut. Tapi, saya kira keluarganya harus bertanggung jawab karena keluarga ini adalah ‘institusi’ terdekat dari setiap anak-anak kita,” ucapnya.
Justin merasa heran, di mana keberadaan dan peran orang tua ketika anak-anaknya melakukan kriminalitas.
“Saya pernah menangani aduan kasus di Duren Sawit, di mana anak umur 14 tahun di jam 2 pagi nyiram air keras. Orang tuanya ke mana?” kata Justin PSI. []


