Manggarai Timur — Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperbarui data dampak bencana gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores.
Hingga Sabtu siang, 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 30 warga meninggal dunia akibat bencana tersebut. Selain itu, sebanyak 643 orang mengalami luka-luka dengan rincian 239 orang mengalami luka berat dan 404 lainnya luka ringan.
Gempa yang melanda wilayah Flores itu juga menyebabkan puluhan ribu warga harus meninggalkan rumah mereka. Berdasarkan data pemerintah daerah, sebanyak 31.372 jiwa terdampak dan kini mengungsi di sejumlah lokasi yang tersebar di 12 kecamatan.
Kecamatan Lamba Leda Utara menjadi wilayah dengan dampak paling berat. Daerah tersebut mencatat jumlah korban meninggal terbanyak dengan 15 orang.
Kemudian disusul Kecamatan Sambi Rampas dengan enam korban jiwa, Lamba Leda dan Lamba Leda Selatan masing-masing tiga orang, Kota Komba dua orang, serta Elar satu orang.
Sementara itu, sejumlah wilayah lain seperti Borong, Rana Mese, Kota Komba Utara, Lamba Leda Timur, Elar Selatan, dan Congkar belum melaporkan adanya korban meninggal. Namun, wilayah tersebut tetap mengalami dampak dengan ratusan warga mengalami luka-luka.
Tim medis yang berada di lokasi juga menangani kelompok rentan, termasuk ratusan ibu hamil yang membutuhkan perhatian khusus. Penanganan korban luka berat dilaporkan terkonsentrasi di wilayah Elar, Borong, dan Lamba Leda Utara.
Jumlah pengungsi terus meningkat setelah banyak warga kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan bangunan. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kecamatan Sambi Rampas dengan 13.564 jiwa dan Lamba Leda Utara sebanyak 11.582 jiwa.
Warga lainnya tersebar di beberapa wilayah seperti Borong, Lamba Leda, dan Lamba Leda Selatan. Sebagian dari mereka bertahan di posko pengungsian, rumah kerabat, maupun fasilitas darurat dengan kondisi terbatas.
Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan besar terhadap infrastruktur. Pemerintah mencatat sebanyak 17.770 bangunan dan fasilitas publik terdampak.
Kerusakan rumah warga paling banyak terjadi di Lamba Leda Selatan dengan 2.768 unit dan Lamba Leda Utara sebanyak 2.386 unit. Selain rumah, gempa turut merusak fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, rumah ibadah, gedung pemerintahan, serta sejumlah ruas jalan dan jembatan.
Kerusakan infrastruktur tersebut membuat proses distribusi bantuan dan penanganan warga terdampak menjadi lebih sulit. Pemerintah bersama tim gabungan terus melakukan pendataan, evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi para korban.[]


