Permintaan Uang untuk Memperlancar Proses Kepabeanan
Dalam konstruksi perkara, kasus tersebut bermula ketika John Field dipanggil Orlando Hamonangan, Kepala Seksi Intelijen DJBC.
Dalam pertemuan itu, John Field memaparkan aktivitas bisnis Blueray Cargo sekaligus meminta informasi dari Bea Cukai apabila terdapat hal-hal yang menjadi perhatian terkait kegiatan perusahaannya.
Namun, dalam pertemuan tersebut diduga muncul permintaan uang untuk Subdirektorat Penindakan dan Subdirektorat Intelijen.
“Kemudian, diduga ada permintaan sejumlah uang dari ORL (Orlando) untuk Subdit Penindakan dan Subdit Intelijen,” kata Taufik.
Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, John Field kembali dipanggil ke kantor pusat Bea Cukai.
Dalam kesempatan itu, dia bertemu dengan Rizal, Direktur Penindakan dan Penyidikan DJBC periode 2024 hingga Januari 2026, serta Gatot.
John Field kemudian meminta bantuan agar proses kepabeanan atau customs clearance perusahaan miliknya dapat berjalan lebih lancar.
Rizal selanjutnya menawarkan John Field untuk bertemu dengan Djaka Budhi Utama yang saat itu menjabat Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
“Sebagai tindak lanjut dari pembahasan tersebut, RZL (Rizal) menawarkan JF (John Field) untuk bertemu langsung dengan DBU (Djaka Budhi Utama) selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai,” tutur Taufik.
Pertemuan berikutnya berlangsung di salah satu hotel di Jakarta Pusat. Dalam pertemuan itu hadir Djaka Budhi Utama, Rizal, Gatot Heroe, sejumlah pejabat Bea Cukai, serta beberapa pengusaha, termasuk John Field.
Setelah pertemuan tersebut, Orlando kembali menghubungi John Field untuk membicarakan nominal uang yang harus disiapkan.
Awalnya, permintaan yang disampaikan terdiri atas Rp2 miliar untuk BC1, Rp1 miliar untuk BC2, dan Rp500 juta untuk BC3.
“Beberapa hari berselang, ORL mengubah nominal permintaan kepada JF menjadi: BC1 senilai Rp3 miliar, BC2 sebesar Rp2 miliar, dan BC3 sejumlah Rp1 miliar,” ungkap Taufik.


