Jakarta – Tepat 40 hari wafatnya komposer legendaris Indonesia James F. Sundah, sebuah langkah bersejarah diambil oleh sang istri, Priscillia Sundah Suntoso, dengan mendirikan The James F. Sundah Foundation.
Organisasi nir-laba yang berbasis di New York, Amerika Serikat ini hadir untuk menjaga, melestarikan, dan melanjutkan warisan karya, pemikiran, serta nilai-nilai yang ditinggalkan oleh almarhum.
Sebagai program perdana, yayasan ini bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui penandatanganan Nota Kesepahaman untuk menyelenggarakan James F. Sundah Fellowship Program.
Program beasiswa riset ini ditujukan bagi mahasiswa tingkat akhir yang meneliti isu-isu penting seperti hak cipta, royalti, hak kekayaan intelektual, pelindungan karya kreatif, serta kebijakan hukum di era digital. Kolaborasi ini juga melibatkan AAPI Creative New York, jejaring kreatif diaspora Asia dan Kepulauan Pasifik di Amerika Serikat.
Program beasiswa ini mendapat dukungan dari tokoh lintas disiplin yang tergabung dalam Komite Seleksi, di antaranya Adi Harsono (eksekutif senior), Aminoto Kosin (musisi dan produser musik), Dahlan Iskan (tokoh pers, mantan Menteri BUMN RI), Naratama Rukmananda (sutradara TV dan penulis senior), serta Wendi Putranto (mantan jurnalis musik dan wirausahawan).
Priscillia Sundah Suntoso, selaku pendiri sekaligus Ketua The James F. Sundah Foundation, menyampaikan bahwa pendirian The James F. Sundah Foundation merupakan wujud amanah dan tanggung jawab yang dipercayakan oleh almarhum untuk menjaga, mengelola, dan melestarikan karya-karyanya beserta nilai-nilai yang ia perjuangkan sepanjang hidupnya.
“James selalu mengatakan, ‘no song, no music industry’, sebuah keyakinan bahwa para pencipta adalah fondasi industri musik dan harus dihargai serta dilindungi hak-haknya,” kata Priscilla, dikutip Opsi pada Kamis, 18 Juni 2026.
“Melalui James F. Sundah Fellowship Program bersama ISI Yogyakarta, kami berharap dapat mendorong lahirnya penelitian yang memperkuat pemahaman mengenai hak cipta dan kekayaan intelektual serta memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Di sisi lain, Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, M.Sn., turut menyambut baik kerja sama ini. Dia bilang, ISI Yogyakarta menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif kerja sama dan beasiswa dari The James F. Sundah Foundation untuk mendukung riset mahasiswa.
“Hal ini akan memperkuat literasi yang dibutuhkan masyarakat seni dan khalayak luas, terutama terkait aspek kekayaan intelektual seniman yang masih memerlukan banyak kajian serta edukasi kepada para pemangku kepentingan seni,” ujarnya.
James F. Sundah dikenal sebagai salah satu pencipta lagu paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia. Karya-karyanya, seperti “Lilin Lilin Kecil” dan “September Ceria”, telah menjadi bagian dari perjalanan budaya bangsa dan terus dinyanyikan lintas generasi.
Melalui beasiswa riset ini, semangat beliau dalam memperjuangkan penghargaan terhadap pencipta lagu dan pelindungan Hak Kekayaan Intelektual diharapkan tetap hidup melalui generasi penerus.
Wendi Putranto, juru bicara sekaligus anggota Dewan Seleksi Beasiswa Riset mengatakan bahwa warisan terbesar James F. Sundah bukan hanya ada di lagu-lagunya, melainkan juga berbagai pemikiran serta perjuangannya untuk menempatkan pencipta lagu pada posisi yang layak dan strategis dalam ekosistem musik Indonesia.
“Beasiswa riset ini menjadi cara yang tepat untuk meneruskan pemikiran tersebut kepada generasi baru melalui penelitian, pendidikan, dan pengembangan pengetahuan, khususnya terkait Hak Cipta dan Hak Kekayaan Intelektual yang hingga saat ini kondisinya masih sangat menantang di Tanah Air,” kata dia.
Program beasiswa riset perdana ini direncanakan mulai menerima pendaftaran pada Tahun Akademik 2026–2027.
Dengan dukungan lintas sektor, The James F. Sundah Foundation berharap dapat memperkuat ekosistem musik dan seni Indonesia, sekaligus menjadikan hak cipta dan kekayaan intelektual sebagai fondasi yang kokoh bagi keberlanjutan industri kreatif. []

