Melalui program ini, tim mendorong masyarakat untuk mengolah nira menjadi Gula Semut Nipah sehingga memiliki masa pemanfaatan dan nilai jual yang lebih baik sekaligus diarahkan pada produk pangan yang lebih terstandar dan mendukung pemenuhan aspek halal.
Transformasi tidak hanya dilakukan pada produk akhir, tetapi dimulai sejak proses pengolahan bahan baku.
Tim memperkenalkan sejumlah teknologi tepat guna untuk membantu KTH Nipah Manis Salenrang beralih dari pengolahan tradisional menuju proses semi-mekanis yang lebih higienis, efisien, dan terukur.
Teknologi yang diterapkan antara lain Mesin Kristalisator Gula Semut Otomatis atau Automatic Stirrer, Modified Rocket Stove, hand refractometer, pH meter digital, serta Continuous Band Sealer.
Mesin kristalisator digunakan untuk membantu proses pengadukan ketika nira memasuki tahap pembentukan kristal gula.
Mesin tersebut menggunakan wajan stainless steel 304 food grade, motor listrik, dan gearbox dengan kapasitas sekitar 20–30 liter nira kental dalam satu siklus.
Sementara itu, Modified Rocket Stove digunakan untuk meningkatkan efisiensi proses pemasakan sekaligus mengurangi paparan asap di sekitar produk.
Penggunaan refractometer dan pH meter juga menjadi bagian dari upaya standardisasi. Masyarakat dapat mengetahui kadar gula dan tingkat keasaman nira sebelum masuk ke proses produksi.
Adapun Continuous Band Sealer digunakan untuk membantu menghasilkan kemasan yang lebih rapat dan rapi sehingga produk memiliki tampilan yang lebih representatif ketika dipasarkan.
“Teknologi yang kami bawa bukan sekadar menggantikan tenaga manusia dengan mesin. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut bisa membuat proses produksi lebih konsisten, higienis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” ungkapnya.


