Pengembangan Gula Semut Nipah juga menyentuh aspek bisnis. Tim memberikan pelatihan mengenai perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), pembukuan sederhana, penetapan harga jual, hingga penguatan kelembagaan usaha.
Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), dengan menempatkan KTH Nipah Manis Salenrang sebagai pelaku utama.
Masyarakat tidak hanya menerima teknologi, tetapi dilibatkan sejak proses identifikasi persoalan, penerapan teknologi, pelatihan, hingga evaluasi program.
Menurut tim, pendekatan tersebut penting agar program tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai.
“Ukuran keberhasilan program bukan hanya apakah mesin sudah digunakan atau produk sudah dihasilkan. Kami ingin melihat apakah masyarakat mampu melanjutkan proses produksi, menghitung biaya usahanya, menentukan harga, dan menemukan pasar secara mandiri,” lanjutnya.
Potensi Gula Semut Nipah semakin menarik karena Desa Salenrang berada di kawasan Rammang-Rammang yang dikenal sebagai salah satu kawasan wisata berbasis lanskap karst di Maros.
Kondisi tersebut membuka peluang agar produk tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas pangan, tetapi juga dikembangkan sebagai produk khas yang membawa cerita mengenai masyarakat, nipah, dan lingkungan Rammang-Rammang.
Untuk mendukung pemasaran, tim mendorong pemanfaatan sejumlah kanal digital seperti Google Business Profile, marketplace, media sosial, dan WhatsApp Business.
Akses pasar juga diarahkan melalui jejaring dengan toko suvenir, kafe, hotel, serta calon pembeli lainnya.
Sementara, Dr. Didiek Handayani Gusti, yang menjadi anggota tim dari ITB Nobel Indonesia, menilai pengembangan produk lokal perlu dibarengi dengan strategi pemasaran yang sesuai dengan perilaku konsumen saat ini.


